Materi
Kuliah:
Epistemologi
Iman dan Akal
Dosen
: SARIMAN, M.Pd
Judul Materi: Paradigma
Pengetahuan Abad Pertengahan: Studi Komparatif
Epistemologi St. Agustinus dan St. Thomas
Aquinas
I.
Pendahuluan
Materi kuliah ini akan mengkaji periode
fundamental dalam sejarah pemikiran Barat, yaitu Filsafat Abad Pertengahan
(abad ke-5 hingga ke-15 M). Periode ini dicirikan oleh pergulatan intelektual
para sarjana (Skolastisisme) untuk menyelaraskan dua sumber kebenaran
yang tampak bertentangan: Wahyu Ilahi (Iman) dan Nalar Manusia (Akal) (Hyman
& Walsh, 2018).
Fokus utama kita adalah pada perbedaan
epistemologis antara dua tokoh raksasa:
- St.
Agustinus (Merepresentasikan Patristik, dipengaruhi Platonisme).
- St.
Thomas Aquinas (Merepresentasikan Skolastisisme Puncak, dipengaruhi Aristotelianisme).
Memahami perbedaan mendasar dalam cara
mereka mendefinisikan batas dan hubungan antara iman dan akal sangat penting
untuk memahami evolusi pemikiran Barat selanjutnya
II. Konsep Dasar
A. Konsep Dasar
Filsafat Abad Pertengahan
Filsafat Abad Pertengahan adalah
filsafat yang teosentris, di mana Tuhan menjadi pusat dan tujuan dari semua
penyelidikan filosofis dan ilmiah. Karakteristik utamanya adalah upaya sintesis
antara:
- Filsafat Yunani (sebagai metode dan
alat berpikir logis).
- Teologi Kristen (sebagai sumber
kebenaran tertinggi).
B. Variabel Kunci: Iman
(Fides) dan Akal (Ratio)
Variabel sentral dalam
kuliah ini adalah hubungan antara:
- Iman (Fides): Kebenaran yang
diterima melalui Wahyu Ilahi dan otoritas Gereja.
- Akal (Ratio): Kapasitas
kognitif manusia untuk mencapai kebenaran melalui penalaran, observasi,
dan logika.
C. Dua Paradigma
Epistemologis
|
Tokoh |
Era |
Pengaruh Filosofis |
Slogan Kunci |
Status Akal |
|
Agustinus |
Patristik |
Platonisme/Neoplatonisme |
Credo
ut intelligam |
Subordinasi
total (Ancilla Theologiae) |
|
Aquinas |
Skolastisisme |
Aristotelianisme |
Dualitas
& Harmoni |
Otonomi
parsial (Preambula Fidei) |
III. Pembahasan Inti:
Mengisi Kesenjangan Epistemologis
A. Paradigma Agustinus:
Ketergantungan pada Iluminasi (Cross, 2014)
- Epistemologi Iluminasi: Agustinus
berpendapat bahwa kebenaran abadi (seperti Ide-ide Platonis) tidak dapat
dicapai hanya dengan akal manusia yang tercemar dosa. Akal memerlukan Pencerahan
Ilahi (Iluminasi) langsung dari Tuhan untuk melihat dan memahami kebenaran
sejati.
- Implikasi Metodologis: Karena
pengetahuan sejati bergantung pada intervensi Tuhan (bersifat internal dan
subjektif), Agustinus menempatkan iman sebagai prasyarat mutlak (fides
praecedit intellectum). Akal berfungsi sebagai alat untuk menjelaskan
apa yang sudah dipercayai.
B. Paradigma Aquinas:
Validasi Rasional dan Empiris (Johnson, 2019)
- Dualitas Kebenaran: Aquinas membagi
ranah kebenaran menjadi dua: yang dijangkau oleh akal saja (filsafat) dan
yang dijangkau oleh wahyu saja (misteri iman). Ini memberi otonomi pada
akal di bidangnya sendiri.
- Bukti A Posteriori: Berbeda
dengan Iluminasi, Aquinas menggunakan metode Aristotelian yang rasional-empiris
untuk membuktikan keberadaan Tuhan melalui Lima Jalan (Quinque Viae).
Bukti-bukti ini dimulai dari pengamatan terhadap dunia
(pengalaman/empiris) dan menggunakan nalar murni (rasional) untuk
menyimpulkan adanya Sebab Pertama (Aquinas, 1945).
- Implikasi
Metodologis: Model ini memvalidasi data indrawi dan penalaran induktif
sebagai sumber pengetahuan yang sah. Akal dapat berfungsi sebagai Preambula
Iman (Preambula Fidei), yaitu membuktikan kebenaran dasar yang
diperlukan sebelum seseorang dapat menerima wahyu (Kretzmann & Stump,
2020).
IV. State of the Art
& Urgensi Penelitian
A. Penelitian Terdahulu
dan Gap
Literatur
telah banyak membahas sintesis filsafat (Plato vs. Aristoteles) yang dilakukan
oleh kedua tokoh. Namun, terdapat kesenjangan teoretis yang penting: kurangnya
analisis komparatif yang ketat mengenai dampak struktural dari peralihan metode
epistemologis (dari internal-illuminatif Agustinus ke eksternal-rasional-empiris
Aquinas) (Davies, 2017).
B. Kebaruan dan Urgensi
Materi
ini menekankan kebaruan dalam melihat pergeseran ini sebagai titik balik
historis di mana filsafat mulai mendapatkan kembali otonomi rasionalnya.
· Urgensi
Teoritis: Perbedaan metodologis ini adalah kunci untuk memahami kesinambungan
antara Abad Pertengahan dengan Pencerahan (Davies, 2017).
· Pentingnya:
Dengan mengkaji Aquinas, kita melihat bagaimana tradisi Barat mulai membangun
ruang bagi penyelidikan rasional dan empiris yang otonom, sebuah fondasi vital
bagi ilmu pengetahuan modern (Tarnes, 2021).
V. Kesimpulan
A. Sintesis Dua Zaman
St. Agustinus
menetapkan iman sebagai pra-syarat pengetahuan, menggunakan kerangka Platonis.
Sebaliknya, St. Thomas Aquinas berhasil menciptakan harmoni fungsional dengan
memberikan otonomi pada akal di bidang filsafat, menggunakan kerangka
Aristoteles dan metode a posteriori.
B. Kontribusi Abad
Pertengahan
Kedua tokoh ini
membuktikan bahwa Abad Pertengahan bukanlah era kegelapan, melainkan periode
yang meletakkan dasar bagi pemikiran rasional terstruktur yang mengakui baik
otoritas transenden maupun validitas nalar manusia.
Referensi
- Aquinas, T. (1945). Summa
Theologiae. Benziger Bros.
- Cross, R. (2014). Augustine.
Routledge.
- Davies, B. (2017). Medieval
Philosophy: An Introduction. Oneworld Publications.
- Hyman, A., & Walsh, J. J.
(2018). Philosophy in the Middle Ages: The Christian, Islamic, and
Jewish Traditions. Hackett Publishing.
- Johnson, S. C. (2019). Aquinas on
Faith and Reason. International Journal of Philosophical Studies, 27(5),
654–678.
- Kretzmann, N., & Stump, E.
(Eds.). (2020). The Cambridge Companion to Aquinas. Cambridge
University Press.
- Tarnes, P. (2021). From
Illumination to Empiricism: The Epistemological Turn from Augustine to
Aquinas. Journal of the History of Ideas, 82(3), 345–367.


0 Komentar